Sabtu, 06 Februari 2010

Kiat kiat mengetahui mimpi

Kiat-kiat Mengetahui dan mencapai hajat melalui mimpi
Oleh: Syamsuri Rifai

Sebelum memasuki pembicaraan tentang mimpi, saya akan jelaskan
tentang kemampuan manusia untuk mengenal atau mengetahui apa yang
akan terjadi. Mengetahui apa yang akan terjadi ada dua macam:

Pertama: Mengenal atau mengetahui melalui pikiran, prediksi pikiran.
Pengenalan ini dalam Islam dikenal sebagai ilmu hushuli atau
pengenalan konseptual.

Kedua: Mengenal atau mengetahui melalui hati dan perasaan. Dalam
Islam ilmu ini dikenal dengan sebagai ilmu hudhuri atau ilmu ladunni
seperti ilmu Nabi Hidhir (as). Kita mengetahui apa yang akan terjadi
bisa terjadi dalam keadaan sadar dan ada kalanya melalui mimpi. Ada
kalanya hal ini terjadi tanpa direncanakan atau diniatin, dan ada
kalanya memang direncanakan dan diniatin yakni melakukan kiat-kiat
sebelumnya.

Tentang pengenalan dan pengetahuan apa yang akan terjadi disebutkan
dalam hadis yang masyhur:
Rasulullah saw bersabda: "Takutlah kamu terhadap terhadap firasat
orang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah." Dalam hadis
ini ditegaskan bahwa orang mukmin mengetahui apa yang akan terjadi
dengan cahaya Allah swt.

Rasulullah saw juga bersabda dalam hadis yang masyhur: "Sekiranya
tidak ada hijab dalam dirimu, niscaya kamu akan melihat apa yang aku
lihat, dan mendengar apa yang aku dengar…"

Hijab-hijab atau tirai-tirai batinlah yang sebenarnya menghalangi
kita untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Rasulullah saw
mengetahui apa yang terjadi secara pasti kebenarannya, sementara
pengetahuan kita tentangnya bersifat remang-remang, tidak jelas dan
tidak pasti. Jiwa dan hati seperti cermin, semakin bersih akan
semakin terang dan jelas.

Mimpi adalah sesuatu yang dilihat oleh setiap manusia dalam
tidurnya, dan mimpi pasti dialami oleh setiap manusia. Semakin
bersih hati dan jiwa seseorang akan semakin terang dan jelas mimpi
dalam cerminnya.

Islam membagi mimpi ada dua macam: mimpi yang dusta dan mimpi yang
benar. Apakah mimpi itu dusta atau benar bergantung pada kondisi
jiwa, hati dan pikiran kita sebelum tidur atau waktu-waktu kita
bermimpi.

Mimpi yang benar dialami oleh Rasulullah saw dan orang-orang suci.
Bahkan tidak sedikit wahyu diterima oleh Rasulullah saw melalui
mimpinya. Dan mimpi yang dusta banyak dialami oleh kita. Mimpi yang
dusta artinya mimpi yang tidak sesuai atau tidak menjadi kenyataan.

Mimpi juga ada yang menyenangkan dan ada yang menakutkan. Kedua
mimpi ini ada kalanya menjadi kenyataan, itu mimpi yang benar. Dan
ada kalanya tidak menjadi kenyataan, itulah mimpi yang dusta.

Mimpi yang benar adalah manifestasi bahwa diri manusia mampu
melintas alam yang tak terikat dengan ruang dan waktu. Dalam
mimpinya manusia dapat berkomukasi dengan orang yang ada di alam
Barzakh atau alam kubur, misalnya seseorang bisa mimpi berjumpa dan
berkomunikasi dengan orang tuanya yang sudah meninggal. Seseorang
juga mimpi berada di suatu tempat yang sebelumnya tidak dikenal. Ada
juga orang tertentu mimpi berjumpa dengan Rasulullah saw dan orang-
orang suci. Bahkan ia mendapat informasi darinya tentang hajat yang
ia cita-citakan.

Dalam kitab Mujarrbat Imamiyah disebutkan: Barangsiapa punya urusan
yang penting, urusan ukhrawi atau duniawi; dan urusan itu sangat
sulit dicapainya, maka lakukan kiat-kiat berikut:
Caranya:
1. Tinggalkan selama 7 hari makanan hewani dan segala yang berasal
dari hewan (termasuk telur, susu, minyak samin dsb.)

2. Carilah tempat yang sunyi untuk khalwat atau meditasi.
3. Dan dalam khalwat atau meditasi itu bacalah ayat Al-Qur'an
berikut sebanyak 72 kali.
4. Insya Allah pada malam terakhir Anda akan mimpi berjumpa dengan
orang suci yang bercahaya, menginformasikan tentang hajat Anda, dan
insya Allah hajat Anda akan tercapai.

Sumber: http://www.mail-archive.com/keluarga-islam@yahoogroups.com/msg16463.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar